Tentang

LATAR BELAKANG

     Pada kurun waktu yang panjang ini sudah saatnya kita merenung kembali cara berarsitektur yang sesuai dengan fitrah kita di daerah tropis lembab. Tema-tema arsitektur berkelanjutan, ramah lingkungan, tanggap iklim, hemat energi hingga bangunan pintar mempunyai benih-benih yang mengakar di bumi nusantara. Arsitektur Nusantara tentu mempunyai pembeda yang tegas atau kesetempatan yang kuat dibanding arsitektur di belahan dunia lain namun juga mengandung kesemestaan yang setara dengan arsitektur lain. Kesemestaan arsitektur nusantara adalah bagaimana wujud nya menjadi selimut alami bangunan. Selimut alam Nusantara mempunyai dimensi keberlanjutan hingga mengerucut menjadi kecerdasan bangunan. Arsitektur nusantara yang organik secara material memberi makna keberlanjutan adalah sesuatu yang memungkinkan pergantian dan bukan keabadian.  Dengan ini masyarakat Nusantara disadarkan pentingnya ketersedian material melalui proses alami tumbuh kembangnya kayu. Arsitektur Nusantara yang kaya ragam akan ornamen luar memunculkan makna keterhubungan dengan alam sekitar. Arsitektur yang tidak sekedar ramah lingkungan namun bersahabat dengan alam. Ruang Nusantara berkembang dari luar ke dalam yang dapat dipahami bahwa lingkungan alam memberi pengaruh dan terhubung dengan ruang dalam bangunan.  Arsitektur Nusantara tidak dapat disangkal sangat dipengaruhi oleh iklim sehingga sangat bercirikan arsitektur tanggap iklim.

      Komponen utama iklim adalah radiasi matahari yang berlimpah, sehingga arsitektur menjadi cara untuk berteduh dan bernaung. Komponen atap menjadi aspek yang menonjol dalam pembentukan ruang dibawahnya. Arsitektur Nusantara dengan tegas membedakan fungsi energi untuk pengawetan dan untuk pengguna.Hemat energi Nusantara terletak optimalisasi penggunaan energi tidak saja sebagai fungsi memasak atau menghangatkan diri namun juga berdungsi mengawetkan bahan pembentuk bangunan. Arsitektur Nusantara didasarkan pada kearifan setempat yang membentuk kecerdasan dasar Nusantara.  Kecerdasan dasar ini terlihat pada ketergantian yang bermakna alih pengetahuan disetiap pembinaan kembali ber arsitektur bersama kegotongroyongan. Selimut alam Nusantara jika ditelusuri mendalam, tentu memuat nilai-nilai universal. Bahkan setiap elemen selimut bangunan memuat kesetempatan yang unik dan nilai-nilai universalitas/kesemestaan yang terjalin dalam satu kesatuan. Karena itu pembelajaran bersama dan berbagi hasil belajar bisa dikatakan sebuah keharusan untuk perbaikan lingkungan di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s